"Menemukan sesuatu hingga menjadi begitu berarti"
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

DI BELAKANG, NAMUN SELALU DI DEPAN

Edisi 1 Maret 2020



Sumber: Foto Pribadi
Sahabat ponimanis.blogspot,  setelah sekian lama tidak membuat artikel, kali  ini admin tertarik dengan kata-kata orang di belakang layar. Kalau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bahwa di belakang layar diartikan sebagai tidak diketahui oleh umum. Kiprahnya, selalu saja tersembunyi dan tidak banyak disoroti oleh khalayak. Namun, perannya sungguh luar biasa dan sangat besar andilnya dalam keberhasilan seseorang, siapa pun dia.

Seorang guru, bisa saja dia adalah orang paling di depan yang mengantarkan siswanya menjadi juara dan sukses dalam beberapa kegiatan. Demikian juga, ada istri yang selalu memberi warna dalam keberhasilan suaminya atau bahkan sebaliknya seorang suami sangat besar perannya dalam mengantarkan keberhasilan istri dalam bidang yang ditekuninya. Demikian pula ada seorang sahabat yang selalu memberi warna kepada seorang teman sehingga berhasil ke puncak prestasi. Ada seorang ibu atau ayah yang acapkali memotivasi anak-anaknya sehingga mampu meraih kejayaan yang diperhitungkan oleh dunia.

Masih banyak lagi, contoh-contoh yang belum disebutkan di sini, yang pada intinya ada sosok dibelakang layar, namun perannya adalah kunci keberhasilan dari sosok idola banyak orang. Selalu saja, pribadinya merupakan jiwa yang tidak gila pujian, menikmati perannya di belakang layar dengan penuh penghayatan. Pantang bagi manusia seperti ini, untuk mengungkit jasanya kepada yang telah diantarkannya sampai ke gerbang utama. Pribadinya begitu anggun, menatap rela dengan senyuman khas manakala melihat ataupun mendengar orang yang dibina, diasuh, dididik, di dalam tanggung jawabnya berkibar hebat sebagai manusia super jaya. Iri, dengki telah dibuang jauh dari lingkaran hati jernihnya.

KIAT SPESIAL, AGAR SEGERA BERPREDIKAT MENJADI IBU HAMIL DAN PUNYA MOMONGAN


Edisi 29 Desember 2018

theartmad.com

Sahabat ponimanis.blogspot.com yang terkasih,

Perasaan segera ingin punya buah hati dan ingin cepat-cepat dipanggil mom (ibu) atau dad (bapak) tentu menjadi hal yang sangat disukai bagi pasangan yang baru membina mahligai rumah tangga maupun bagi Anda pasangan lama, namun kesusahan ingin menambah lagi momongan. Problematika yang terjadi setelah sekian lama tidak dikarunai kehadiran seorang baby, sementara hal itu merupakan sesuatu yang dinanti-nanti, tetapi apalah daya kehadiran seorang bayi yang diidam-idamkan ternyata tidak juga kunjung datang. Ini adalah cerita pengalaman, sebuah perjalanan panjang ketika terus berjuang ingin mempunyai seorang bayi. Selama kurun waktu kurang dari satu tahun berusaha, terus berusaha dimulai dari bulan Juli kala itu, dengan mengandalkan informasi dari berbagai sumber serta menitikberatkan perhatian dari segi makanan. Akhirnya, di tahun kedua pun berhasil positif hamil dan secara otomatis berhak menyandang predikat sebagai Ibu Hamil.



Sebenarnya bagi mereka yang telah bertahun-tahun menanti, usaha satu tahun berhasil, bukanlah merupakan suatu rentang waktu yang panjang. Namun, manakala kondisi hati sangat begitu ingin segera punya momongan selalu berkecamuk dan memuncak, maka perasaan tidak sabar pun sangat bergelayut yang mendera teramat sangat. Sehingga terasa begitu lama, lama dan lama.
            
Dalam usaha dan perjuangan mendapatkan karunia seorang bayi, selama kurang dari satu tahun waktu ditempuh telah menghabiskan 15 test pack dari berbagai merk; sensitif, akurat, onemed, directtes. Hampir pada setiap bulannya, selalu dilakukan pengecekan menggunakan alat tersebut. Sembari harap-harap cemas, berdebar-debar tak menentu tetap saja tiada jemu memberanikan diri untuk melihat hasil tes urine pertama pada pagi hari yang terpampang pada test pack. Bulan pertama, bulan kedua, ketiga dan seterusnya selalu kecewa. Hingga tepat di bulan kesembilan dan test pack kelimabelas, kabar itu pun datang. Persis pada bulan Maret hasilnya, POSITIF HAMIL.
           
Berikut ini adalah beberapa hal yang dijalankan dalam rangka perjuangan untuk mendapatkan kehadiran seorang bayi:

Makanan yang dianjurkan dikonsumsi untuk kesuburan:

NO.
NAMA MAKANAN
KEGUNAAN
1.
Memaksimalkan Ereksi
2.
Memperbanyak Hormon
3.
Ikan Laut
Meningkatkan kesuburan dan kekentalan sperma
4.
Menguatkan Penetrasi Sel telur saat pembuahan

www.tipsanakbayi.com

FAKTOR PSIKOLOGI DAN KEBIASAAN YANG PERLU DIPERHATIKAN
  1. Mohon Kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan yang terbaik dengan keyakinan dan pasrah
  2. Olahraga Memaksimalkan Mr.P 
  3. Jangan Obesitas (kegemukan)
  4. Jangan Stress
  5. Hindarkan HP dekat Mr.P (jangan letakkan HP di dalam saku celana samping)
  6. Jangan Memangku laptop dekat Mr.P
  7. Menunda Hubungan 1,2 hari
  8. Tidak mandi dengan air hangat
  9. Jangan terlalu LELAH, baik lelah fisik maupun lelah pikiran



FAKTOR MAKANAN YANG MENUNJANG DAN MAKANAN YANG PERLU DIHINDARI
  1. Konsumsi Gen Subur (Lk/Pr)       : habis 3 botol    
  2. Konsumsi Numen Z (Lk)               : habis 1 kaplet        
  3. Konsumsi Folaxin (Lk/Pr)             : habis 2 paket         
  4. Konsumsi Vitamin Ever E (Lk/Pr) : habis 1 kaplet        
  5. Konsumsi Jelly Gamat Gold G (Lk/Pr): habis 1 botol           
  6. Konsumsi Trace Mineral 30 Ml (Lk/Pr)habis   1/2 botol      
  7. Konsumsi Minyak Zaitun Kapsul (Lk/Pr): habis 1 botol          
  8. Konsumsi Minyak Salmon Kapsul (Lk/Pr) : habis 1 botol  
  9. Konsumsi Kurma Muda (Lk/Pr)        
  10. Konsumsi Daun Kemangi (Lk/Pr)  : dijadikan lalap saat makan
  11. Menghentikan sementara Kebiasaan Minum Kopi 
  12. Menghentikan sementara kebiasaan merokok
  13. Jangan minum alkohol
  14. Sementara hindari sayur Pare
  15. Hentikan dulu makan daun pepaya
Dari berbagai macam jenis obat dan makanan yang dikonsumsi di atas, tentu saja belum dapat dipastikan mana yang lebih unggul dan berperan penting antara satu dengan yang lainnya sehingga mampu menjadi perantara datangnya positif kehamilan. Namun, dapat disampaikan di sini bahwa semua yang telah tertulis, secara keseluruhan dan berurutan dari awal semua telah dilaksanakan tanpa terkecuali. 

Demikian sedikit sharing tentang upaya untuk mendapatkan momongan yang diambil dari pengalaman nyata. Semoga dari apa yang telah terpapar, akan menguatkan harapan yang sekian lama telah terpatri, namun belum juga kunjung datang. Selalu berusaha dengan penuh keyakinan dan kesabaran. Yang terpenting adalah selalu memohon kepada Sang Pencipta, Dialah Yang Maha Memberi. Jangan pernah lelah berdoa. Tetap semangat. Semoga berhasil.


KASIHAN YA...., MENGGUNCANG LANGIT


Sumber: Koleksi Pribadi

Dalam hidup ini, beraneka warna corak kehidupan pun acapkali terjadi di sekeliling kita. Dari perihal yang menggembirakan sampai kepada yang sangat memilukan. Sejuta makna, semiliar pesona atau bahkan setriliun tekanan hidup, tentunya siap tidak siap harus siap, menanggung semuanya. Dari kegembiraan yang diterima, terkadang membuat manusia lupa, sementara yang diingat adalah rangkaian nestapa. Itulah keluhan. Padahal, kita dianjurkan untuk tidak banyak atau jangan sering-sering mengeluh. Mendengar keluhan, melihat hasil keluhan merupakan fenomena hidup yang menjadi sebuah kenyataan, pengalaman dan pelajaran hidup luar biasa. Pernahkah, terbayang di benak masing-masing individu tentang guratan kata yang sepertinya mampu mengguncang langit? Anggapan “Sepele”, selalu saja yang tertanam dalam pola pikir kebanyakan manusia pada umumnya.



Memang sepele dalam pandangan manusia, namun belum tentu dari sudut pandangan Yang Maha Bijaksana. Yah... itulah bentuk dari perkataan lirih atau bergumam atau bisikan kata yang tersembunyi. Sekecil apa pun kata hati, tetaplah terketahui dan tidak akan sia-sia bila berkenaan dengan kebaikan. Maksud spesifik dari uraian ini adalah manakala seseorang melihat hal yang memilukan melanda diri orang lain, misalnya entah itu terjatuh, terpelanting dengan dahsyat, makan dari sisa orang lain, memakai baju yang sobek di sana-sini, bernafas dengan susah payah, jalan tertatih-tatih, berjalan sembari menuntun sepeda motor dan membawa rantai yang putus, mobil mogok dan sulit dibetulkan, terlambat naik pesawat, barang bawaan hilang semua dan masih banyak lagi nestapa, kesulitan, hiruk pikuk beban hidup yang dialami manusia. Maka lihatlah, sikap yang ditunjukkan oleh masing-masing individu pun beragam dalam rangka menyaksikan gulir bermakna dari kejadian tersebut.


Refleks saja, bila yang terjadi kemudian adalah spontan mengucap:”Kasihan ya....?”.  Baik itu dengan nada lirih maupun cuma goresan kata hati belaka, adalah simbol keajaiban hati seseorang menuju kelembutan kasih sayang. Solidaritas bentuk demikian, walau sementara hanya sebatas kata, akan tetapi telah mampu mengguncang langit. Mengapa? Karena itulah untaian kata yang menjadi sumber dari datang dan terwujudnya kebaikan-kebaikan selanjutnya. Maka bersyukurlah, bila mempunyai anak, saudara, teman, atau siapapun itu yang senantiasa ada di sekeliling menemani, manakala tiba-tiba terjadi sesuatu atau menyaksikan sesuatu yang memilukan, masih sempat bergumam; :”Kasihan ya....?”. Sebatas berangkat dari kalimat ini, efeknya akan tumbuh melaju rencana-rencana baik nan mulia mengiringinya. Kalaupun berhenti pada kalimat itu saja, rasanya cukup sudah untuk  mewakili lambang empati yang begitu besar. Pada umumnya, faktor ketidakberdayaanlah menjadi pemicu terbesar berhentinya action pengiring (kebaikan-kabaikan lain yang mengikutinya).



Telah sampai sebuah untaian kalimat emas sebagai kabar gembira dari Yang Maha Penyayang; “Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi oleh siapa saja yang di langit”. Ungkapan ini memberi sugesti tidak tanggung-tanggung kepada selurah umat manusia agar menebar rasa kasih sayang. Adapun korelasi dengan topik ini adalah, manakala seseorang mampu berkata:”Kasihan ya....”, hal ini dikategorikan sebagai ungkapan yang tumbuh dari rasa kasih sayang dalam lubuk hatinya. Karena ada sifat penyayang itulah, maka secara spontan keluar ungkapan tadi. Dampaknya, siapa saja yang di langit pun balik menyayangi si empunya rasa belas kasih sayang. Betapa bahagianya, siapa pun itu bila setiap melihat pemandangan memilukan, hatinya luluh, perasaan iba menggelora, tak terasa bibir bergumam; “Kasihan ya....’ bahkan air matanya pun jatuh di pipi sebagai bukti indahnya ketulusan perasaan kasih sayang benar-benar terhujam di hati sanubari. Kalau sudah demikian, berawal dari kata lirih; “Kasihan ya...’, akan melahirkan perbuatan baik lainnya sebagai manifestasi hasil dari lambang kasih sayang. Ada yang mewujudkannya dalam bentuk memberi bantuan berupa harta, tenaga, nasihat atau sekalipun tidak mampu dicukupkan dengan bantuan berupa doa kepada yang sedang menderita, menanggung duka lara, dihimpit kesusahan.

ARTIKEL LOMBA QURETA

Edisi 26 Oktober 2018


Sahabat ponimanis.blogspot.com yang penuh kreativitas,
Beberapa pekan yang lalu, Qureta menyelenggarakan Lomba Esai Kemanusiaan. Dengan berbekal semampu dan sebisanya, pemilik Website ponimanis.blogspot.com mencoba untuk ikut berpartisipasi dalam ajang tersebut. Ada beberapa tema yang ditawarkan oleh panitia.



Sumber: www.facebook.com
Judul artikel yang diikutsertakan dalam lomba adalah "Agama sebagai Penggerak Nilai Kemanusiaan yang Memanusiakan Manusia". Bagi Sahabat yang ingin membaca lebih detail, dapat mengunjungi langsung DI SINI. Semoga bermanfaat, mohon maaf atas segala khilaf dan kesalahan.





AKU DAN KAMU

Edisi 7 Oktober 2018


Siapa orang yang berjasa dalam hal ini? Siapa orang yang paling baik di sini? Siapa manusia super rajin pada instansi ini? Jawaban paling ringan dan cepat, walaupun tanpa pikir panjang adalah “aku”. Sementara jika pertanyaannya dibalik, yang jelek-jelek justru yang diajukan dalam pertanyaan, misalnya; Siapa pegawai yang paling malas di sini? Siapakah orang yang tidak sopan di sini? Siapa orang yang kerjanya paling lambat di sini? Untuk menjawab pertanyaan yang mayoritas isinya kurang bagus, ucapan yang paling sering dilontarkan adalah “kamu”, sebagai kata yang dipilih untuk mewakili kata ganti orang dari sekian kata ganti yang ada. Intinya, bahwa pada saat menjawab yang buruk-buruk, selalu dilimpahkan kepada orang lain. Baik itu kata “kamu”, “dia”, “mereka”, sebagai tempat pelampiasan predikat jelek paling populer. Dan sangatlah jarang, orang yang secara jujur mengakui kejelekan yang disandangnya.





Tarik ulur tentang “aku” dan “kamu”, selalu saja menjadi perdebatan batin yang menghebohkan. Sebab, pertarungan jiwa yang menggelora di zona perasaan, senantiasa menjadi tolok ukur kemuliaan atau kehinaan hati seseorang di hadapan Qodhi Robbul Jalil, Dia-lah Hakim seadil-adilnya. Kata hati adalah sesuatu yang tak kasatmata, sehingga sangat sulit dimaknai jika hanya mengandalkan pancaindra semata. Penilaian mata yang dipergukan untuk menilai hati, seringkali tersalah, karena sebatas dari apa yang dilihat dan didengar. Sementara kata hati, terus-menerus akan mengalami gerakan fluktuasi yang sangat rahasia, bermuara dari bisikan yang diterimanya. Bisikan baik, akan mewujudkan action kebaikan sesuai pada jalurnya. Bisikan jelek, mengakibatkan kiprah kejelekan yang semuanya dapat dirasakan dengan riil tanpa menggunakan alat bantu apa pun.

Kata “aku” selalu digambarkan dengan hal-hal yang berbau egois. Aku adalah senada dengan lambang keberanian. Aku juga diidentikkan dengan julukan kesombongan. Bergantung pada situasi bagaimana kata “aku” disandarkan. Misalnya saja, pada kondisi paling aman dan enak, maka buru-buru pilihan kata pun jatuh pada kata “aku”. Sementara manakala situasi berubah menjadi tidak nyaman dan tidak enak, kata yang paling ringan untuk diucapkan adalah “kamu”. Jadi, antara “aku” dan “kamu” seringkali berbanding terbalik penggunaannya, tergantung pada kehalusan, kekasaran pribadi serta konteks tujuan terselubung yang bagaimana, akhirnya juga akan sampai ke sebuah titik yang diniatkan tersebut .

Mengapa manusia acapkali melimpahkan sesuatu yang jelek kepada orang lain? Akan tetapi, kurang jentelmen untuk mengakui kejelekan yang dimilikinya? Sungguh, ini disebabkan oleh adanya keinginan agar prestise yang dimilikinya naik daun. Demi prestise, kadang orang lupa prestasi. Prestasinya tidak ada, namun selalu mendambakan prestise. Inilah golongan pribadi yang kurang introspeksi diri. Ada juga, orang yang punya prestasi, dan acapkali menonjolkan prestisenya di mana pun berada. Orang ini lambat laun akan disebut sebagai manusia yang kurang percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Begitu khawatir jika dirinya tidak kelihatan hebat di hadapan manusia lainnya. Sebagai solusinya, diambil langkah selalu menyebut-nyebut kebaikan, prestasi yang ada pada dirinya. Padahal, sikap demikian sebenarnya justru sering menjadi bumerang. Namun, yang pasti adalah dari segala apa yang tersurat dalam kehidupan, selalu tergantung pada niat. Sampai kapan pun, niat itulah yang tertulis di sisi Sang Khalik. Kebaikan, kendatipun tidak digembor-gemborkan akan tetap terdeteksi secara abadi.

Sejatinya, orang yang benar-benar baik itu, mampu membuat orang lain menjadi baik pula. Bahkan, ada yang sangat bersahaja rela berdiri di belakang layar atas kebaikan, prestasi orang lain. Dirinya akan merasa puas, jika sanggup menjadi perantara kebaikan. Keberhasilan yang mampu digapainya, merupakan sesuatu yang tidak berdiri sendiri, melainkan merasa tetap ada andil orang lain. Begitu juga, jika orang lain berhasil, ia akan selalu bercita-cita ikut mewarnai kebaikan siapa pun, walau tanpa sepengetahuan si pemilik kebaikan tersebut. Dengan demikian, kekacauan antara “aku” dan “kamu”, akan mendapatkan jalan keluar, pada saat masing-masing diri mau mengakui bahwa dirinya mempunyai kelemahan, di samping kelebihan yang dimiliki. Tapi ingat, orang lain pun mempunyai hal yang sama. Orang lain, juga mempunyai kelebihan, di samping kelemahan yang disandangnya.

Klimaksnya, benturan antara egoisme “aku” dan “kamu” semoga segera dapat diakhiri. Manakala manusia mau dan rajin bermuhasabah. Muhasabah membuat pribadi seseorang menjadi anggun. Berbuat baik, berprestasi, namun tetap dalam koridor sadar diri. Bahwa segalanya tidak lepas dari campur tangan-Nya. Apa yang patut disombongkan di hadapan Yang Maha Besar? Apa yang layak dibangga-banggakan di hadapan Yang Maha Mengetahui? Segalanya perlu diuraikan, “aku” dan “kamu” selayaknya sama-sama ditempatkan pada proporsi yang semestinya. Tidak perlu memonopoli dan merampas hak orang lain. Berjalan seimbang menapaki trotoar kehidupan dengan tetap memasang niat bagus, sebagai modal dasar merangkai ujaran “aku”, “kamu” memang layak berpredikat baik-baik selalu.




Juara Tanpa Lomba

Edisi 15 September 2018



Sumber: Koleksi Pribadi
Juara dalam lomba mempunyai arti menang dalam pertandingan atau perlombaan. Seseorang akan dianggap hebat jika dialah yang terhebat dari yang hebat. Dialah yang terbaik dari yang dianggap baik. Dialah yang terpandai dari yang disebut-sebut pandai. Tapi, satu hal yang perlu dicatat bahwa juara dalam sebuah kompetisi pertandingan terikat dengan adanya syarat dan ketentuan yang berlaku. Dengan istilah yang lebih populer disebut sebagai “aturan main”. Jika aturan main ditaati, maka perlombaan/pertandingan akan punya wibawa dan berbobot. Namun, jika aturan itu justeru yang dibuat “main-main”, maka tumbuh peluang adanya embrio jatuhnya martabat sebuah lomba. Menjunjung tinggi etika dari aturan main merupakan syarat mutlak munculnya pertandingan/perlombaan yang berkualitas. Setiap tatanan yang diberlakukan, tentu akan menjadikan semua peserta patuh menerima serta merasa lega dan puas akibat transparansi alat penilaian yang bekerja melalui sistem operasional super obyektif. Ada empat efek yang ujung-ujungnya mampu mewarnai suasana hati pada saat berlomba. Senang dan puas, karena menang sesuai aturan. Sedih tapi lega, karena kalah namun sesuai aturan. Malu dan terbebani, ketika menang tidak sesuai aturan. Kecewa berat, sewaktu kalah dan tidak sesuai dengan aturan. Dan begitulah, masing-masing ternyata mendatangkan efek suasana batin yang berbeda-beda. 



Adakah juara tanpa lomba? Tentu ada, jawabnya. Yakni, manakala kata juara dianggap dan dijadikan sebagai akronim sehingga hasil dari gabungan pada kata juara itu sendiri dinisbahkan pada arti lain. Juara = Jujur Bersuara. Pada makna ini, terkandung iktikad baik dalam menjunjung tinggi kejujuran. Bila yang menjadi idaman adalah luhurnya budi pekerti, tentu keinginan untuk menjadi juara setiap saat, seyogianya menjadi tujuan hidup yang terhujam dalam sanubari setiap pribadi. 
Bisa bersuara, berani bersuara, akan tetapi bila belum bisa dan tidak berani jujur dalam bersuara, akibatnya akan menjelma menjadi pundi-pundi kesalahan. Muncul kebohongan sebagai lawan dari kejujuran. Kebohongan dalam bersuara pada hakikatnya berdampak merugikan diri sendiri dan orang lain. Akumulasi bohong demi bohong yang dilakukan, dapat meruntuhkan identitas diri di hadapan sesama makhluk dan Sang Pencipta. Memulai hari-hari yang dilalui dengan Juara, Jujur Bersuara adalah sebuah niat suci yang pasti diridhoi. Perilaku jujur kepada siapa pun adalah bentuk loyalitas tertinggi sebagai manifestasi seorang hamba dalam menjunjung moralitas serta bukti ketaatannya.

Kendatipun dalam praktik Juara, Jujur Bersuara, tidak diikutkan dalam sebuah event lomba seperti lazimnya sebuah turnamen. Namun, justru umat manusia dalam pelaksanaannya diharapkan seperti sedang mengikuti lomba bahkan sangat dianjurkan. Jujur itu baik dan mulia. Berlomba-lomba dalam menggapai kebaikan, sungguh merupakan kondisi yang tidak sia-sia dan tidak bakal tersia-siakan. Dimulai untuk juara, jujur bersuara pada diri-sendiri, juara pada lingkup keluarga dan lingkungan, hingga juara yang tertebar di mana pun berada. Pada saat semua orang sampai ke sebuah titik suasana budaya berlomba-lomba untuk jujur bersuara, niscaya dunia akan terang bernderang dihiasi oleh lisan-lisan juara yang penuh dengan keluhuran hakiki. Meskipun, kadang rintangan datang menghampiri pelaku juara, namun sampai kapan pun kejujuran dalam bersuara akan selalu berkilau menemui jati diri sebagai pemenang sesungguhnya.