"Menemukan sesuatu hingga menjadi begitu berarti"

Bertemu Bapak Menteri (Bagian 4)

  Edisi 20 November 2020


JALAN PERTAMA BERTEMU BAPAK MENTERI

Dan,... saat yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya tiba. Pandangan mata ini, saya arahkan betul-betul tertuju kepada Bapak Menteri yang memang telah usai membuka acara. Ke mana, jalan yang akan dilalui beliau, segera saja saya susul sembari berlari sekuat tenaga agar betul-betul dapat bersalaman dan foto bersama menjadi sebuah kenyataa. Tidak hanya saya, ternyata peserta lain pun hiruk-pikuk mengerjakan hal serupa. Saling berlomba mendahului untuk satu tujuan.

Takdir baik ada di pihak saya. Yaah .... walaupun Bapak Menteri cuma berhenti sebentar, karena memang dalam rangka bergegas menuju pintu keluar. Namun, tetap menyempatkan diri bersalaman serta berhasil diampil gambar sedapatnya, mengingat posisi dan badan bergerak jalan. 

Akhrinya, atas ijin dan perjuangan yang luar biasa, bersalaman dan foto bersama dengan Bapak Menteri Pendidikan pun tercapai. Dan ini merupakan pengalaman untuk pertama kalinya.dalam sejarah hidup saya. Cita-cita, harapan yang sedari usia Sekolah Dasar sudah terpatri dalam lubuk hati, terwujud sudah. Saya sangat bersyukur, karena melalui jalan Mengikuti Lomba Inobel, maka pada tahun 2015 itulah kegembiraan melimpah ruah. Alloh mengijinkan Bisa bertemu Bapak Menteri serta teman-teman guru hebat Se-Indonesia yang berasal dari berbagai Provinsi.

Sumber: Dokumen foto pribadi


JALAN KEDUA BERTEMU BAPAK MENTERI

Berkarya, berkarya dan terus selalu berkarya. Itulah yang melekat sudah menjadi hobi. Tidak peduli, bisa masuk lomba atau tidak. Yang terpenting, setiap inovasi yang lahir, itulah jawaban atas sebuah masalah yang dihadapi peserta didik. Mereka ingin senang belajar ......

Bersambung ......

Bertemu Bapak Menteri (Bagian 3)

 Edisi 13 November 2020


JALAN PERTAMA BERTEMU BAPAK MENTERI

Setelah dijelaskan tentang mekanisme keberangkatan oleh pegawai kementerian. Bahwa, keberangkatan dalam rangka ikut perlombaan inobel. Dari tiket pulang pergi, hotel penginapan, dan segala sesuatunya yang ada kaitannya dengan inobel, semua disediakan secara gratis oleh pemerintah. Benar-benar aku selaku guru merasa sangat dimanjakan dan ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat.

Pada saat acara pembukaan perlombaan, selain bertemu dengan rekan-rekan guru hebat se-Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, juga ada sesuatu yang sangat mengguncang hatiku. Yakni, hadirnya Bapak Menteri Pendidikan dalam acara tersebut. Maka, sejak dari awal, diriku sudah mengatur strategi bagaimana caranya agar aku dapat bersalaman serta berfoto bersama dengan beliau. .

Kuputuskan untuk duduk di bangku deratan paling belakang. Karena, pintu keluar dan masuk berada tepat di belakang sana. Dengan demikian, apabila nanti pada saatnya Bapak Menteri usai memberikan sambutan dan akan menuju keluar. Maka, dari deretan mana pun beliau akan keluar, aku bisa secara bebas kesana-kemari menghadang perjalanan Bapak Menteri.

Sumber: Dokumen foto pribadi
Bersambung ......

Bertemu Bapak Menteri (Bagian 2)

  Edisi 12 November 2020


JALAN PERTAMA BERTEMU BAPAK MENTERI

Tahun 2015, itulah tahun untuk pertama kalinya aku mendengar istilah INOBEL. Awalnya, ada seseorang yang menghubungiku dan minta masukan mengenai karya yang telah selesai dibuat olehnya. Katanya, mau diikutsertakan pada Lomba Inobel. Dari situlah, akhirnya aku tahu kalau di tanah airku ini, ada sebuah lomba yang dikhususkan bagi para guru Indonesia. Syaratnya, punya NUPTK dan mempunyai karya inovasi dalam pembelajaran. Aku merasa, bahwa syarat tersebut telah ada pada diriku. Maka dari itu, segera saja aku mencari juknis atau pedoman Inobel di internet.


Setelah aku mendapakan pedoman dan sudah kubaca hingga betul-betul paham. Maka, aku semakin yakin jika aku harus ikut lomba tersebut. Aku telah mempunyai tabungan beberapa inovasi pembelajaran yang kusimpan di komputer PC. Lalu aku pilih, inovasi pembelajaran yang menurutku sangat belum ada di mesin pencarian google pada saat online. Ini tandanya, kalau karyaku masih betul-betul orisinil. Setelah aku susun karya tersebut dengan kata-kata dan bahasaku sendiri serta aku cocokkan dengan yang termaktub di Buku Pedoman Inobel, akhirnya aku cetak dan aku kirimkan melalui jasa Pos Indonesia.


Selang beberapa lama, mungkin kurang lebih setengah atau satu bulan kemudian aku mendapatkan telepon dari nomor tak dikenal. Namun aku langsung mengangkatnya. Terdengar suara seorang ibu-ibu nun jauh di sana. Beliau mengatakan bahwa dia adalah pegawai Kementerian. Bermaksud memberitahukan kalau karyaku yang telah masuk ke panitia, berhasil masuk juga sebagai finalis inobel tingkat nasional tahun 2015. "Selamat untuk Bapak, dan silakan dipersiapkan segala sesuatunya", ujar ibu tadi. Kemudian, aku ditanya ukuran bajunya apa. Karena nanti akan dibuatkan jas, kaos berikut celana.


Betapa bahagianya aku hari itu, mendapat kabar yang luar biasa indah. Mungkin, kalau aku tidak malu sama teman-teman di kantor sekolah, boleh jadi aku mungkin berjingkrak tidak karuan. 


Sumber: Foto Koleksi Pribadi


Bersambung ......

Bertemu Bapak Menteri (Bagian 1)

 Edisi 11 November 2020


PENYEMANGAT BELAJARKU DI USIA SEKOLAH DASAR

Aku begitu ingat, masa kecilku dulu pada saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Ke mana pun aku pergi, selalu kubawa kumpulan foto-foto bapak menteri yang duduk dalam kabinet pada masanya. Foto-foto tersebut, aku tempel di atas kertas karton yang aku potong persegi empat menyerupai KTP. Tatkala semangat belajarku menurun, cepat-cepat aku lihat deretan foto-foto tersebut sehingga kujadikan penyemangat serta sumber energi. Kutanamkan dalam lubuk hatiku yang paling dalam, kalau aku harus mampu menjadi seperti mereka. Akulah nantinya yang akan menjadi pengganti serta meneruskan pengabdian mereka pada negara Indonesia tercinta ini. Setelah itu, semangatku pun berangsur pulih kembali. Maka, alhasil, belajarku kembali giat dan semangat untuk meraih perdikat Ranking I juga kembali menyala-nyala.

Kini, aku bukanlah menjadi menteri. Tapi, aku adalah seorang guru. Justru ternyata, dari profesi inilah diriku bisa bertemu, berjabat tangan, foto bersama dengan bapak menteri. Dulu, dulu sekali, perasaan dan keinginan untuk bertemu dengan seorang presiden, seorang menteri adalah khayalan yang seolah-olah menggantung nun jauh di sana. Namun, apa yang tidak mungkin? Apa yang tidak bisa menjadi kenyataan? Seratus atau seribu jalan yang memungkinkan seseorang untuk sampai pada sebuah titik akhir hasil dari khayalan sebelumnya.

Andai saja, ada orang yang menganggap sepele dan mudah baginya untuk bertemu dengan orang-orang penting, itu sah-sah saja. Tapi bagiku, guna bisa bertemu dengan seorang menteri tentu butuh sebuah perjuangan panjang hingga dapat sampai ke titik tersebut. Pada saat aku punya cita-cita, dan melihat orang lain bahagia. Sungguh, aku pun bahagia. Karena aku berkeyakinan, manakala aku bisa turut serta merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, maka takdir baik akan berpihak kepadaku. Artinya, aku pasti bisa merasakan kebahagiaan, seperti  yang didapat dan dirasakan oleh orang tersebut.

Sumber: Foto Koleksi Pribadi

Bersambung ......